Pa
Biar Miskin Asal Sombong oleh : Donny B.U. * Saya sebenarnya sempat optimis bahwa komputer dan Internet, bisa menggantikan fungsi beberapa teknologi komunikasi lawas yang sudah kadung dikeloni oleh sekian ratus juta penduduk Indonesia. Toh memang di beberapa kondisi, hal tersebut sudah mulai terasa, walaupun masih malu-malu. Misalnya saja, ketika dulu yang namanya berkirim-kiriman pesan untuk menyatakan turut berbahagia ataupun turut berduka cita kerap disampaikan dalam bentuk tertulis di atas sebuah kertas yang dibungkus oleh amplop berperangko, kini banyak yang mengalihkannya ke jasa layanan pesan singkat (SMS) dengan biaya kurang dari gopek. Murah meriah, cepat tepat! Komunikasi antar benua pun sudah tidak perlu menunggu berhari-hari, cukup sampaikan melalui e-mail, maka detik itupun komunikasi sudah terjalin. Mau yang interaktif? Bisa gunakan fasilitas chatting, asal betah saja memahami maksud lawan bicara dengan cara membaca tulisan di monitor dan menjawabnya dengan cara mengetik. Mau yang lebih revolusioner? Lengkapi saja perangkat komputer Anda dengan sound card, speaker dan microphone ala kadarnya. Modalnya paling banter di bawah gopekceng. Lalu instal software komunikasi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP), semisal Yahoo! Messenger, maka Anda sudah bisa bercuap-cuap dengan lawan bicara yang berada di mana saja di penjuru dunia. Syaratnya cuma akses Internet dan pulsa telepon lokal! Hebat bukan? Semangat komputerisasi dan Internetisasi ini yang selalu didengung-dengungkan oleh para pandai Internet kepada masyarakat awam. Pokoknya, apapun aktifitas Anda, hasilnya akan lebih murah-meriah cepat-tepat apabila menggunakan komputer dan Internet, alias teknologi informasi (TI) Lah kok pada saat ajang unjuk diri TI terakbar di Indonesia pada awal April 2004 lalu, tepatnya saat proses penghitungan suara Pemilu 2004, hasilnya kok bertolak belakang dengan apa yang "ditempelkan" di jidat masyarakat tentang TI? Sistem komputerisasi Pemilu yang sedemikian canggihnya, dan tentunya sedemikian mahalnya, ternyata dirasakan melempem oleh masyarakat. Banyak anomali yang timbul, misalnya lambatnya pemrosesan data suara untuk dapat ditampilkan di pusat tabulasi nasional, berubahnya angka menjadi 0 semua atau terjadi lonjakan angka sekian puluh juta, hingga terubahnya nama partai di dalam sistem TI tersebut menjadi nama yang "aneh-tapi-nyata" lantaran sistem berharga ratusan miliar rupiah tersebut sempat disatroni oleh "orang iseng" yang juga menggunakan komputer dan Internet. Pihak KPU boleh mengeluarkan sejuta alasan teknis untuk pembelaan diri, toh masyarakat sudah kadung kecewa. Lagian apa kepentingannya masyarakat umum dengan alasan teknis? Toh bagi mereka, yang penting hasilnya sesuai tidak dengan yang dijanjikan dan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Masak iya, kecepatan hasil penghitungan suara secara komputer bisa setara dengan yang secara manual. Itu saja kok yang ada di benak masyarakat! Apalagi konon, seperti kerap menjadi bisik-bisik di masyarakat, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Elvis Presley, yaitu "Love Me Tender", sangat populer di KPU. Mudah-mudahan kecewanya masyarakat lebih kepada manajemen KPU-nya, bukan kepada TI-nya. Tapi tidak perlu terlalu heran. Nyatanya memang bangsa kita ini masih agak gamang, kagetan dan "gumunan" dengan perkembangan TI yang revolusioner di Indonesia. Memang, ada indikasi bahwa TI kita ini ujung-ujungnya adalah "menurut petunjuk" vendor saja. Bisa jadi mereka memang sebenarnya tidak peduli kita siap atau tidak, butuh atau tidak. Yang penting jualan mereka laku di negara dunia kedua dan ketiga, karena pasar di negara asal mereka sudah jenuh! Kan ada prinsip dasar marketing, yaitu ciptakan kebutuhan, apabila memang barang jualan kita sebenarnya belum menjadi kebutuhan yang mendesak di pasar. Makanya jangan heran, bila ada rekan Anda, atau mungkin Anda sendiri, yang punya ponsel lebih dari 1 buah. Padahal mulut kita hanya satu! Atau mungkin ada yang memiliki ponsel, notebook atau komputer tercanggih, tetapi optimalisasi fungsinya paling banter hanya 10% saja. Pokoknya canggih, pokoknya menjadi trend-setter, pokoknya up-to-date, dan pokoknya mahal! Jadi, akhirnya memang KPU tidak terlalu salah jika sistem TI yang mereka bangun tersebut kurang dapat berfungsi secara optimal. Lah wong gamang, kagetan dan "gumunan" terhadap TI ini sudah menjadi penyakit bangsa kok! Toh kebetulan saja, KPU ini menjadi bola kristal untuk melihat kondisi yang ada. Jadi, mempertanyakan kebijakan KPU dengan komputerisasinya tersebut sama dengan mempertanyakan diri sendiri di depan cermin. Logikanya, menghujat KPU ya menghujat diri sendiri toh! Kan sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita (dan di negara kita tentunya), bahwa kemampuan yang terbatas kerap kalah set dengan ego yang menggelora. Ibarat pepatah ala "warung kopi", nafsu besar tenaga kurang, biar miskin asal sombong! *) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juni 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.