Pa
Teleworking ? Teler* Worker ! oleh : Donny B.U. ** Mungkin sebagian besar dari Anda sudah paham betul, bahwa yang dimaksud dengan teleworking adalah sebuah konsep yang meminimalkan fungsi dan keberadaan kantor secara fisik, yang dibatasi oleh dinding beton dan mesin (absen) Amano! Anda telah menjadi seorang teleworker apabila "kantor" Anda adalah kapan pun saat dimana Anda sedang berada, atau ketika jadwal "ngantor" Anda menjadi tidak penting lagi. Singkatnya, teleworking adalah suatu teknologi yang mengantarkan suatu pekerjaan ke depan Anda, saat itu juga dimanapun Anda berada! Canggih bukan? Menurut hasil riset Gartner Group, sebuah lembaga riset teknologi informasi (TI), di dunia ini hingga penghujung 2003 lalu, terdapat lebih dari 137 juta orang yang bekerja secara teleworking. Saya punya seorang rekan, pengacara muda, yang modal bekerjanya adalah sebuah ponsel. Dia bahkan jarang hadir ke kantor "betulan"-nya, sehingga segala korespondensi dengan staf kantor dan kliennya dilakukannya melalui ponsel, voice ataupun SMS. Ada lagi rekan saya, kini seorang eksekutif muda di bidang TI, modalnya adalah sebuah Xda. Xda adalah hasil kawin silang antara ponsel dengan PDA. Sehingga dengan Xda tersebut, dia telah membawa fasilitas telepon, akses Internet, e-mail, SMS, MMS, ponsel, kamera dan PDA dalam genggamannya. Saya hanya kuatir, jika barang tersebut hilang (mudah-mudahan tidak terjadi), secara de facto bisa saja rekan saya telah kehilangan "kantor"-nya. Sebuah penyelenggara layanan telepon selular yang baru lahir di Indonesia, salah satu iklannya di media massa bahkan mengedepankan semangat teleworking, yaitu ketika seorang wanita eksekutif muda di taksi berkorespondensi dengan rekannya di rumah, menggunakan sebuah notebook yang terkoneksi dengan jaringan Internet berkecepatan tinggi menggunakan ponsel. Cita-cita sih boleh saja, bukan? Suatu ketika saya ditanya oleh seorang rekan saya, yang kebetulan dia berkantor sebagaimana lazimnya orang-orang "normal" (menurut ukuran mereka, tentunya), "Anda berkantor dimana?". Jawab saya," saya berkantor di manapun, asalkan di depan saya ada sebuah komputer yang terhubung dengan Internet". As simple as that! Faktanya memang demikian, saya "terpaksa" memiliki sebuah kantor kecil-mungil di daerah Pondok Gede, bukan karena saya yang membutuhkannya, tetapi karena beberapa mitra yang (akan) bekerjasama dengan saya membutuhkan bukti bahwa saya adalah orang yang layak dipercaya. Salah satu kriterianya adalah, memiliki kantor dalam bentuk fisik! Ya akhirnya, saya buatlah sebuah kantor ala kadarnya, meskipun hanya seminggu sekali saya setor muka untuk memeriksa apakah kertas faksimili yang terpasang masih cukup panjang. "Kantor" saya yang sesungguhnya, dimana saya biasa bekerja untuk membuat tulisan ataupun urusan administratif, biasanya adalah di rumah, di warnet ataupun di kafe. Modalnya hanya sebuah komputer atau notebook, dan tentunya akses Internet. Meskipun demikian, tidak semua aspek dalam pekerjaan yang menggunakan semangat kebebasan ala teleworking tersebut selalu manis adanya. Buktinya, apa yang tengah saya kerjakan saat ini, ketika saya sedang membuat artikel yang tengah Anda baca kali ini. Saat ini saya sedang di tengah sebuah acara sidang bidang TI antar negara di Hong Kong, benar-benar saat sidang tengah berlangsung dan saya berada di dalamnya. Anda bisa bayangkan, hanya gara-gara di ruang sidang disediakan akses Internet wireless, maka saya bisa memeriksa e-mail menggunakan notebook saya. Dan sialnya, salah satu e-mail yang masuk adalah dari redaksi majalah Djakarta!, mengingatkan saya bahwa kini sudah deadline untuk memasukkan artikel. Saya membaca e-mail tersebut kemaren siang. Karena saya sudah kadung janji, maka malam harinya saya segera mencoba membuat artikel tersebut di kamar hotel (tentunya dengan memotong waktu saya untuk pelesiran), dan diteruskan pada hari ini. Inilah salah satu poin tidak enaknya mengadopsi semangat teleworking. Anda memang bisa mengerjakan segala hal darimana pun. Masalahnya, terkadang pekerjaan "memaksa" datang ke hadapan Anda di saat yang tidak diharapkan, dan harus diselesaikan seketika itu juga. Alangkah enaknya seandainya saya "tidak tahu" bahwa ada pekerjaan yang menunggu saat itu juga. Informasi atau tugas pekerjaan yang biasanya mungkin hanya Anda ketahui dan Anda kerjakan saat di kantor saja, dengan semangat teleworking kini semua berubah. Pekerjaan akan menghantui Anda kapanpun dan dimanapun Anda. Bahagiakah Anda kalau sudah demikian? Tetapi ternyata tidak sedikit orang yang (mau tidak mau) bersedia menerima kondisi tersebut. Rekan saya yang pengacara tadi, kebetulan berada dalam acara yang sama dengan saya di Hong Kong. Sayangnya, dia harus kembali ke Indonesia dua hari lalu, lantaran dia mendapat pesan SMS melalui ponselnya bahwa ada yang perlu segera diurus di Jakarta. Salahnya sendiri, kenapa harus mengaktifkan fasilitas roaming di kartu ponselnya. Coba kalau tidak, maka dia tidak perlu tergopoh-gopoh untuk pulang, dan setidaknya urusan di Jakarta, bagaimanapun caranya, bisa dikerjakan (sementara) oleh orang lain. Dan budaya yang rada keblinger ini ternyata sudah menjangkiti multi-etnis. Di sebelah saya saat ini ada orang dari delegasi Jepang, yang juga tengah sibuk ketak-ketik di notebooknya. Saya sedikit mengintip ke layar monitornya, ternyata yang dikerjakan tidak ada kaitannya dengan acara yang tengah berlangsung (saya juga begitu sih!). Yang dikerjakan, sepertinya, adalah memeriksa harga saham di Jepang dan mungkin juga tengah melakukan transaksi jual-beli melalui Internet. Di depan saya ada orang dari delegasi Filipina, juga melakukan kesibukan dengan notebooknya, dan yang dilakukan kebanyakan adalah membaca dan mengetik e-mailnya di Yahoo!mail. Memang, teleworking di satu sisi membuat kita menjadi sangat mungkin menerima berbagai informasi dan mengerjakan beberapa hal sekaligus (multitasking). Tetapi sayangnya, otak dan fisik kita ini memiliki berbagai keterbatasan. Di tengah sidang, ketika saya tengah mengetikkan paragraf penutup ini, mata saya sudah byar-pet, karena semalam sehabis belanja oleh-oleh dengan berjalan kaki, saya tidak langsung istirahat, tetapi mencoba mengetik beberapa paragraf atas artikel ini. Makanya, saya sekarang rada teler, padahal sidang baru akan usai sekitar 6 jam lagi! *) teler = bahasa prokem Jakarta, yang artinya mabuk atau tidak dalam keadaan sadar yang penuh **) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.