Pa
Digital Divide Gombal ! oleh : Donny B.U. * Gara-gara konsep digital divide tersebut, yang konon merupakan salah satu senjata "neo-imperialisme" masa kini, maka bangsa kita harus siap menjadi tempat pembuangan "limbah-limbah" teknologi. Tidak jadi soal, teknologi usang ataupun teknologi gres sekalipun. Lah wong sudah jelas kok, negara-negara barat yang sekarang menjadi produsen kelas kakap barang berteknologi canggih, sedang kelabakan. Pasalnya, pasar domestik mereka sedang berada di titik jenuh, sejenuh-jenuhnya. Biasalah, karena resesi ekonomi dunia dan segala macam "penyakit" ekonomi dan turunannya. Daripada dagangan mereka menjadi barang basi di negara mereka, maka mau tak mau, mereka harus melakukan "penjajahan ekonomi" dengan menguasai negara-negara dunia kedua dan ketiga sebagai negara (korban) tujuan pasar mereka. Khusus untuk jualan produk teknologi informasi (TI), maka diciptakanlah jargon "digital divide". Ini bukan isapan jempol! Di negara barat sudah mulai banyak kritik yang diarahkan pada "kemunafikan" digital divide. Sebutlah salah satu contohnya adalah sebuah artikel pada majalah Newsweek edisi 25 Maret 2002 silam, berjudul "Debunking the Myths of the Digital Divide". Menurut artikel tersebut, kesenjangan digital (akhirnya) hanya dipahami sebagai gap antara pemilik/pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak memiliki/menggunakan teknologi (the have nots). Artikel tersebut mengutip penelitian yang dilakukan oleh David Card, ekonom dari University of California dan John DiNardo, ekonom dari University of Michigan. Menurut Card dan DiNardo, "The digital divide suggested a simple solution (using computers) for a complex problem (of poverty). With more computer access, the poor could escape their lot. But computers never were the souce of anyone's poverty and, as for escaping, what people do for themselves matters more than what technology can do for them". Tetapi percuma, bangsa kita ini bangsa yang mudah saja dibodohi. Faktanya, tidak sedikit kini "orang" pemerintah maupun swasta yang berlomba-lomba adu kepintaran di atas panggung, menceritakan bagaimana kemelaratan bangsa ini bisa diselamatkan dengan mempersempit digital divide yang ada. Caranya, belilah dan gunakan produk-produk TI, tidak peduli apakah memang cocok atau dibutuhkan. Akibatnya, kemelaratan moral justru semakin membabi-buta dengan adanya "pemaksaan" ala digital divide tersebut. Contohnya, suatu ketika saya pernah iseng main ke sebuah sekolah menengah negeri, di bilangan Kelapa Gading - Jakarta. Sekolah tersebut sedang menginstal program-program bajakan di sekitar 10-an komputer baru. Usut punya usut, ternyata ke 10 komputer baru tersebut adalah hasil manipulasi dan tipu-tipu pihak sekolah. Caranya gampang saja, mereka tinggal memfoto komputer-komputer yang sudah tua dan rusak, lalu dikirimkan ke Depdiknas, dan mengaku-aku sebagai korban banjir. Lalu dapatlah mereka bantuan komputer baru tersebut. Padahal, sekolah mereka berlantai 2! Komputer-komputer mereka yang lain pun sebenarnya masih layak dipakai. Mereka ternyata hanya ingin menambah 1 buah lab komputer lagi, dari 1 buah yang telah ada sebelumnya. Tujuannya agar bisa dibanggakan ke sekolah lain yang belum memilikinya dan salah satu lab komputernya akan digunakan sebagai warnet untuk siswa-siswa sekolah mereka agar tidak ketinggalan teknologi. Jadi, bukan rahasia umum lagi kini banyak sekolah yang berlomba-lomba memiliki lab komputer agar tidak termasuk salah satu sekolah yang "gaptek", meskipun harus dengan menghalalkan segala cara sekalipun. Ada lagi skala besarnya, dimana digital divide bisa membutakan kita sedemikian rupa. Warung Internet (warnet) akhir-akhir ini acapkali dinyatakan oleh pemerintah sebagai salah satu senjata menciutkan digital divide, sekaligus menjadi "ujung tombak" penyebaran informasi. Maka berlomba-lombalah para pemilik modal untuk menggelontorkan dananya untuk membangun warnet. Padahal warnet kini sudah tidak lagi menguntungkan bagi pengusahanya, karena pasar sudah terlalu jenuh. Ujung-ujungnya, mereka yang sudah telanjur membuka warnet, terpaksa membolehkan pelanggannya untuk mengakses apa saja di warnet mereka. Kini warnet sudah tidak lagi menjadi pusat informasi dan pengetahuan, tetapi lebih tepat sebagai pusat cybercrime, pornografi dan judi online! Omong-omong soal judi online, beberapa waktu lalu sempat diramaikan oleh media massa mengenai keberadaan sebuah situs judi lokal yang dibemperi salah satunya oleh surat resmi dari Kementerian Komunikasi Informasi. Kasus tersebut bagi kalangan komunitas Internet Indonesia, menjadi ger-geran tingkat nasional! Kok bisa-bisanya, sebuah institusi yang seharusnya memberikan arahan tentang perkembangan TI di Indonesia, bisa diakalin oleh pengguna TI. Untuk hal yang pasti-pasti seperti itu saja, kita sudah gamang. Apalagi jika menghadapi isu digital divide yang tidak pernah jelas mana kepala dan mana buntutnya. Mari kita ciutkan konteks digital divide tersebut ke masing-masing individu saja. Apakah Anda memiliki ponsel lebih dari satu? Berapa banyak kuping Anda? Sesering apa Anda berganti ponsel terbaru? Sudah saatnya diganti atau "kemakan" iklan? Gadget apa yang Anda miliki? Butuh atau sekedar gaya? Jangan lupa, isu digital divide pun kini telah diramu sedemikian rupa oleh para vendor TI yang menjajakan produk-produk personal. Sehingga, kita akan sangat mudah dibuat yakin, bahwa jika tidak menggunakan suatu produk tertentu, maka kita akan ketinggalan jaman, kuno, gaptek kita menjadi sumber malapetaka terjadinya digital divide. Saking hebatnya mereka berjualan, sampai-sampai kita tidak sempat berpikir panjang lagi untuk membeli produk TI, entah butuh ataupun tidak. Pokoknya, ngetren bo! Dasar, digital divide gombal! *) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, April 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.