Pa
Teror e-Mail Berantai oleh : Donny B.U. * Saya ingat pertengahan tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sampai harus dua kali memuat surat bantahan yang berbeda di situs mereka, www.pom.go.id, gara-gara berseliwerannya e-mail berantai tentang "Surat Keputusan Badan POM" tertanggal 15 April dan 25 Agustus 2003. Isi e-mail aspal tersebut, melarang masyarakat untuk mengkonsumsi beberapa obat-obatan yang banyak beredar di pasaran, karena kandungannya justru dapat membahayakan kesehatan peminumnya. Footer e-mail tersebut mengesankan e-mail tersebut dikeluarkan secara resmi oleh Kepala Badan POM saat itu. Kontan, BPOM langsung kebakaran jenggot. Fenomena e-mail tersebut adalah hal yang wajar (tapi kurang ajar) dalam dunia bisnis, karena salah satu kiat lawas merebut pasar (ala preman pasar), yaitu menyebarkan informasi FUD, alias Fear (ketakutan), Uncertainty (ketidakpastian) dan Doubt (keraguan). Intinya, devide et impera otak masyarakat! Nah, kebetulan saja saat ini teknologi e-mail menjadi bungkusan baru atas teknik ala jaman kolonial tersebut. Lemparkan saja e-mail berisi informasi yang menyesatkan ke mailing-list, maka e-mail tersebut akan berubah wujud menjadi e-mail berantai dan tak membutuhkan waktu lama sebelum menimbulkan reaksi di masyarakat. Hal tersebut disebankan karena masih mahal dan jarangnya teknologi Internet di Indonesia, maka para pengguna Internet saat ini masih dianggap sebagai opinion leader di lingkungan masing-masing. Teror e-mail berantai seringkali untuk urusan yang ecek-ecek dan cenderung konyol. Misalnya pernah suatu ketika, muncul e-mail antah-berantah yang intinya meminta agar e-mail tersebut diforward ke 10 orang lagi. Kalau tidak dilakukan, maka niscaya kita akan menerima kemalangan yang beruntun. Opo tumon? Mailbox saya sering dipenuhi e-mail semacam itu, dan yang biasa saya lakukan adalah langsung mendelete-nya sekaligus membodoh-bodohi (dalam hati) si pengirim e-mail tersebut. Kok bisa-bisanya percaya e-mail begituan! Ada lagi e-mail berantai sejenis, tetapi merepotkan seperti contoh kasus BPOM di atas. Yaitu e-mail berantai yang juga mengharuskan penerimanya untuk memforward ke orang lain, dengan imbalan akan mendapatkan hadiah tertentu jika sudah mencapai kuota pem-forward-an tertentu. Hadiahnya bisa tiket pesawat Singapore Airlines, Ponsel Nokia, PDA Phone Handspring dan sebagainya. Sialnya, si pengirim e-mail tersebut kerap mengaku dari perusahaan pemberi hadiah tersebut, dan dalam rangka ulang tahun perusahaan, pembukaan kantor cabang atau alasan-alasan lainnya. Bisa dibayangkan, betapa repotnya juru bicara perusahaan tersebut ketika harus menjelasan kepada masyarakat yang menagih "janji". Meskipun terkadang kelihatan agak absurd, toh kebohongan di dalam e-mail berantai tetap saja dipercaya (dan dilakoni) oleh banyak kalangan tanpa terkecuali. Saya pernah mendapatkan forward sebuah e-mail dari seorang teman yang punya jabatan redaksional cukup tinggi di sebuah majalah waralaba tentang gaya hidup. Orang media je, kok ngawur! Dan yang akhirnya membuat mangkel saya nyaris ke ubun-ubun adalah ketika istri saya sendiri sempat ikut-ikutan memforward sebuah e-mail berantai, ke saya! Tetapi tidak semua e-mail berantai berfungsi atau berdampak ecek-ecek. Mungkin Anda masih ingat, pasca kerusuhan Mei 1998 berseliweran sebuah e-mail dari Vivian, seorang gadis keturunan Cina yang menceritakan secara lengkap dan detil tentang kapan, dimana dan bagaimana dirinya diperlakukan tidak manusiawi saat kerusuhan Mei 1998. Beberapa media massa cetak nasional kemudian memberitakan kisah tersebut, tanpa membuktikan keberadaan gadis tersebut. Meskipun majalah D&R justru menemukan kejanggalan ketika melacak asal-muasal e-mail tersebut, informasi "Vivian" tersebut sudah menjadi agenda publik nasional dan internasional yang tak terbantahkan. Di awal tahun 1999, muncul pula e-mail berantai yang mengisahkan bagaimana Juan Paul Valdez, seorang peramal besar abad ke-19 dari Spanyol, meramalkan bahwa sebuah negeri yang ciri-cirinya mirip Indonesia di tahun tersebut sekali lagi akan mengalami kerusuhan seperti tahun sebelumnya. Detail ramalannya begitu rinci, sehingga orang langsung teringat dengan kondisi Indonesia pasca-Soeharto. Berkembang-biaklah e-mail tersebut dari satu mailbox ke mailbox lain, dari satu mailing-list ke mailing-list lain. Walhasil, majalah Gatra ketika itu melaporkan bahwa cukup banyak masyarakat yang termakan isu e-mail tersebut, sehingga banyak WNI keturunan Cina yang termotivasi mengungsi ke luar negeri. Ada juga sih e-mail berantai yang dampak keisengannya bisa multiple effect, yaitu untuk merepotkan beberapa institusi sekaligus dan memberikan harapan semu bagi sekian banyak individu. Salah satu contohnya adalah ketika di penghujung tahun 2003 muncul sebuah e-mail, entah siapa "terorisnya", yang seakan-akan datang dari bagian personalia Pertamina. Isinya adalah membuka lowongan pekerjaan bagi sekian puluh lulusan S1 yang terpilih. Nah bagi ratusan bahkan ribuan lulusan S1 yang berminat (dan tertipu), diminta untuk mengirimkan berkas lamarannya ke perguruan tinggi terdekat yang ditunjuk, paling lambat hingga 29 Januari 2004. Kontan saja, perguruan tinggi yang ditunjuk dalam e-mail tersebut akan kebingungan karena kebanjiran berkas lamaran yang tidak jelas juntrungannya. Bisa ditebak selanjutnya, pihak Pertamina yang menjadi sasaran gerutuan perguruan tinggi tersebut akan garuk-garuk kepala juga. Walhasil, kini di situs www.pertamina.com ada pengumuman yang mencolok bahwa, "sehubungan adanya berita yang tidak resmi mengenai penerimaan calon pekerja Pertamina, maka dengan ini kami beritahukan bahwa Pertamina saat ini belum menyelenggarakan program dimaksud". Tapi saya yakin, masih banyak orang yang tidak tahu pengumuman tersebut dan masih ngotot mengirimkan berkas lamarannya. E-mail berantai terbukti memang ampuh untuk mengarahkan opini publik, dari sekedar urusan guyon yang ecek-ecek sampai kaliber politik internasional sekalipun. E-mail berantai dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan pembunuhan karakter sebuah individu, institusi hingga negara sekalipun. Jadi mulai sekarang jangan anggap enteng e-mail (berantai)! *) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Maret 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.