Pa
Hati di Jempol Tangan oleh : Donny B.U. * ================================================== 10 Petunjuk Pemakaian SMS (bervariasi pada beberapa merek ponsel) : 1. aktifkan (unlocked) keypad ponsel Anda 2. klik menu, kemudian pada menu Messages, klik select 3. pilih menu Write message, klik select 4. ketik pesan berikut "….. selamat tahun baru 2004, semoga sukses ….." 5. setelah selesai mengetik pesan, kemudian klik menu options 6. pilih menu Sending options, klik select 7. Pilih menu Send to many, klik select 8. Pilih nama yang ada pada memori ponsel Anda dan klik OK. 9. Ulang kembali prosedur nomor 8 untuk mengirimkan pesan Anda ke siapapun yang nomor ponselnya tersimpan di memori ponsel Anda. 10. Berhenti apabila jempol Anda letih, atau pulsa sudah habis. ================================================== Pusing melihat petunjuk di atas? Jangan kuatir, sebenarnya tanpa membaca petunjuk di atas pun, saya yakin jari jempol kanan Anda sudah cukup terlatih untuk mengetik dan mengirimkan SMS. Teknologi memang sebenarnya dirancang untuk makin memudahkan dan memanjakan kehidupan kita yang makin tidak mudah saja. Percaya atau tidak, semakin maju teknologi, jempol tangan kita akan makin aktif mengambil peranan. Contohnya, remote-control. Fungsi koordinasi otak-kaki-tangan, yang dahulu sangat berfungsi untuk mengganti channel televisi (mungkin pendahulu kita sebelumnya tidak terlalu peduli dengan urusan yang satu ini, karena acara TV memang dimonopoli dari desa ke desa), kini semua digantikan dengan sekedar klak-klik jempol pada remote-control TV. Dengan teknologi tersebut, terbukti bahwa kita lebih senang untuk tidak mengoptimalkan sendi dan otot kaki kita untuk bangkit dari sofa empuk yang kita duduki, kemudian berjalan ke arah TV dan mengganti channel secara manual. Bagi anak-anak kecil dan ABG, remote control mobil-mobilan pun jadi pilihan teknologi permainan yang sedang nge-trend dan wajib dimiliki. Fungsi koordinasi otak-kaki-tangan mereka pun diciutkan, hanya pada (lagi-lagi) jempol untuk bermain mobil-mobilan berbasis teknologi. Saya ingat jaman dulu ketika masih ingusan, yang namanya bermain mobil-mobilan adalah dengan mengikat mobil kecil dengan seutas tali atau benang yang cukup panjang, kemudian bersama para konco, berkelilinglah kita dengan menarik mobil masing-masing. Fakta membuktikan, kaki dan tangan anak-anak jaman sekarang semakin berkurang fungsinya. Jadi, jangan heran, jika sekian ratus atau ribu tahun kemudian, yang namanya spesies manusia, bentuknya tidak akan se-ciamik yang sekarang. Mungkin bentuknya akan persis seperti gentong air, tetapi ditambah dengan kepala (untuk meletakkan mata, mulut, telinga dan otak tentunya), kaki seadanya (asal bisa untuk berdiri atau menggulingkan badan) dan dua tangan yang ukurannya tidak simetris (jempol kanan akan jauh lebih besar daripada jari lainnya). Ngeri? Ah tidak. Itu hanya sekedar gambaran pergeseran fungsi fisik saja. Yang saya takutkan justru bukan pergeseran fungsi fisik tersebut (yang mungkin akan terjadi saat jasad saya sudah jadi minyak bumi), tetapi pergeseran fungsi hati manusia ("hati" yang dimaksud di sini adalah berupa pikiran dan/atau perasaan, bukan dalam artian harfiah sebagai salah satu jeroan (organ tubuh) manusia. Kok bisa? Mari kita balik pada paragraf awal artikel ini. Dapat dipastikan, di tiap penghujung tahun, apalagi berdekatan dengan hari raya Idul Fitri dan Natal, para pemilik ponsel di Indonesia yang jumlahnya kini lebih dari 14 juta pelanggan tersebut akan beramai-ramai memanfaatkan fasilitas SMS untuk menyampaikan pesan-pesan mereka. Trafik SMS akan meningkat signifikan. Sekedar contoh, Telkomsel (Simpati dan Kartu Halo) pada pada h-1 hingga h+2 Lebaran 2003, trafiknya mencapai 40 juta sms per hari! Untuk Excelcomindo (Pro XL), bisa mencapai 20 juta SMS per hari. Sedangkan Indosat (Mentari dan Matrix), total keduanya mencapai 17 juta SMS per hari. Ini berarti, ada sekian puluh juta fungsi hati manusia yang (disadari atau tidak) dialihkan ke jempol tangan untuk melakukan ritual komunikasi antar manusia. Tradisi mengirimkan kartu ucapan sudah mulai pupus, setidaknya bagi kebanyakan penghuni dan pekerja di kota metropolitan seperti Jakarta ini. Ritual menulis nama dan alamat menggunakan pena, tergantikan dengan sekedar lirikan mata pada layar ponsel. Ritual menempelkan perangko (menggunakan lem Glukol ataupun lem kanji) dan berjalan ke bis surat atau ke Kantor Pos, diambil alih oleh beberapa 'klak-klik' jempol pada keypad ponsel. Apa yang hilang dari pergeseran ritual tersebut? Kedekatan hati saat mengingat dan melafalkan nama seseorang yang tidak muncul dalam prosesi ber-SMS. Dan rendahnya kepedulian kita pada pemaknaan pesan yang kita kirim. Pokoknya tinggal klik OK atau Send, maka rasanya sudah plong, karena telah menunaikan tugas ke-"manusia"-an kita. Tanpa kita sadari, sebenarnya telah mengurangi nilai dan esensi "sentuhan manusia" dalam komunikasi model tersebut.. Dengan SMS, otak kita tak lagi terlalu disibukkan dengan pertanyaan apakah pesan yang kita kirimkan akan sampai atau tidak, karena kita bisa dengan mudah memahami dan memaafkan apapun yang namanya "kesalahan teknis". Pun, kita tidak terlalu peduli apakah pesan yang sampai ke ponsel tujuan, akan dibaca sampai habis, disimpan ataukah langsung dihapus oleh penerimanya. Pokoknya, selama orang yang kita tujukan pesan tersebut tahu bahwa kita masih ingat dengannya, maka (kita merasa) diri kita cukup terwakili. Padahal, bukan tidak mungkin orang yang menerima pesan kita justru sebal dengan datangnya SMS yang bertubi-tubi, apalagi isi pesannya sama dan sejenis. Sungguh merepotkan, harus menghapus satu-per-satu tiap SMS yang masuk. Jika dia akhirnya membalas SMS kita, itu sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Karena bisa jadi dia hanya mencoba bersopan-santun dengan membalas SMS penuh basa-basi, atau sekedar me-reply dengan template SMS yang telah tersimpan di ponselnya. Keterlaluan memang! Nyatanya, kita semua setali tiga uang. Kalau ada SMS masuk yang kata-katanya atau gambarnya bagus, langsung kita edit nama pengirimnya, dan kita forward kemana-mana untuk mewakili eksistensi atau perasaan kita. Kalau memang akhirnya ritual dan prosesi berkirim SMS tersebutlah yang diakui sebagai tren berkomunikasi yang "manusiawi" dan "berhati" diantara sesama umat manusia, maka Maha Besar Sang Pencipta, karena hati kita ternyata (hanya) tersimpan di jempol tangan! *) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Januari 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.