Pa
True Tales from The Virtual World oleh : Donny B.U. * Mungkin bagi sebagian orang akan sulit percaya bahwa sepasang manusia bisa menjalin cinta melalui Internet (istilah kerennya, virtual lover). Mereka akan beranggapan bahwa virtual reality hanya ada di film Hollywood semacam Matrix. Virtual community? Apa pula itu! Percayalah, semua hal di atas nyata adanya, senyata majalah Djakarta! yang tengah Anda baca saat ini. Bagi penggemar film Matrix, pasti ingat pernyataan berikut ini "Apakah nyata itu? Apa definisimu tentang nyata? Jika yang kau maksud adalah apa yang kau bisa rasakan, yang bisa kau cium, yang bisa kau kecap dan yang bisa kau lihat, maka nyata hanyalah sinyal litrik yang diterjemahkan oleh otakmu". Jika sudah demikian, Anda perlu senyata apa sih untuk menggambarkan cinta? Anda pasti pernah suatu ketika merasa deg-degan ketika mendapatkan surat cinta dari kekasih, merasa rindu ketika pasangan Anda tidak tak kunjung memberi kabar, atau tiba-tiba pipi Anda bersemu merah ketika mendengar nama seseorang idaman Anda disebut-sebut di depan Anda. Sadarkah Anda, bahwa yang pernah Anda alami di atas tersebut sejatinya hanyalah serangkaian sinyal listrik yang dipadu dengan efek-efek kimiawi di otak Anda. Yang Anda hadirkan di otak Anda hanyalah sebuah pemunculan ulang atas pencitraan sesosok kekasih, pasangan atau idaman yang telah menjadi residu di otak Anda, tentu saja dikombinasikan dengan emosi-emosi kimiawi semisal rindu, marah, cemburu dan benci. Nah, hanya itulah sebenarnya esensi dasar yang Anda butuhkan dalam menjalin ikatan emosional dengan orang lain. Sinyal-sinyal emosional dari pasangan virtual lover ditransfomasikan dalam bentuk bit dan byte di Internet. Ah, jangan sampai mengernyitkan kening. Ide dasarnya sebenarnya sama dengan teknis berhubungan jarak jauh ala pendahulu kita, atau masih Anda lakukan hingga saat ini, yaitu melalui selembar kertas, dibungkus amplop dan ditempeli perangko (surat maksud saya). Melalui sepucuk surat tersebut, Anda mentransformasikan hasrat, gairah dan emosi cinta Anda melalui setiap tetesan tinta yang mengukir sebuah kertas putih polos. Bedanya dengan para virtual lover, emosi mereka akan saling dipertukarkan saat itu juga (real time) ketika mereka menekan tombol 'Enter' pada keyboard. Sedangkan para conventional lover, kalau saya boleh katakan demikian, harus menunggu berhari-hari terhitung sejak mereka menutup amplop dan menempelkan perangko. Saya punya seorang teman baik, yang akhirnya mereka menikah, tentu saja kali ini tidak secara virtual. Mereka bertemu melalui sebuah chatroom dan memadu kasih melalui Internet hampir selama 2 tahun, tanpa pernah bertemu secara fisik sekalipun sebelumnya! Sang pria tinggal di Jakarta, dan wanitanya saat itu tengah menyelesaikan studi di Jerman. Pernikahan mereka dilaksanakan di Jakarta, pada sekitar tahun 99-an. Daripada membicarakan orang lain, yang saya sendiri kurang tahu bagaimana proses mereka berkasih-kasihan, saya akan ceritakan pengalaman pribadi saya sekitar 5-6 tahun lalu. Saat itu saya bervirtual-loveran dengan seorang wanita Indonesia yang permanent resident di Singapura. Hampir setiap malam minggu saya harus pulang ke rumah pukul 21.00 WIB, tepat! Saat itulah waktu ngapel dimulai. Setelah menyalakan komputer dan terhubung ke Internet melalui dial-up ke sebuah Internet Service Provider (ISP), saya segera menjalankan software mIRC untuk masuk dan bergabung ke sebuah komunitas virtual di channel (bilik maya) yang bernama #bawel DALnet. Yang pertama kali saya lakukan setelah masuk ke channel tersebut adalah mencari nickname si dia, dari sekian ratus nickname pengunjung channel tersebut yang tersusun secara alfabet. Kemudian saya akan menyapa dan berbincang-bincang dengan beberapa rekan saya di channel tersebut, sembari saya melakukan private chat dengan si dia. Apa yang saya berbincangkan di private chat tersebut? Biasalah, seperti bagaimana kalau sepasang kekasih bertemu. Dari sekedar menanyakan kabar, hingga berkasih-kasihan. Ya, kembali ke esensi dasar yang telah saya sebutkan di atas, saat itu saya dan dia lebih banyak bermain di tataran simulasi aksi. Apa lagi itu simulasi aksi? Jika saat itu saya ketikkan kalimat "berpegangan tangan" di keyboard, maka saat itu pulalah pesan tertulis tersebut sampai ke dia, dan secara simultan sinyal listrik di kedua otak kami mensimulasikan kondisi (emosi kimiawi) seolah-olah memang saat itu kami tengah benar-benar sedang berpegangan tangan. Batasan fisik sudah menjadi hilang dan menjadi tidak penting sama sekali. Demikian pula dengan ketikkan kalimat "mengelus pipi", "mengecup kening" dan "membelai rambut", semua langsung menjadi sinyal listrik yang langsung menuju ke otak, diproses oleh campuran kimiawi otak, dan Anda merasakan tengah melakukan hal tersebut. Jadi, segala bentuk media komunikasi, entah face-to-face, surat konvensional berperangko ataupun melalui Internet, bukanlah pengaruh yang signifikan atas keberhasilan hubungan sepasang kekasih. Masih banyak hal lain, semisal komitmen, kejujuran, kesetiaan, dan sebagainya. Tadi saya sempat menyinggung soal simulasi aksi. Simulasi aksi inilah yang kerap diterjemahkan sebagai virtual reality atau realitas virtual oleh sebagian kalangan. Bagaimana mensimulasikan sesuatu aksi agar bisa diterima oleh otak kita, dan bagaimana otak kita bisa menganggap simulasi aksi tersebut adalah benar-benar melibatkan aktifitas panca indra, itulah konsep realitas virtual. Hal tersebut pulalah yang menjadi bumbu kecap dari film Matrix, dan faktor penting sebuah hubungan emosional melalui Internet. Lalu apa sebenarnya virtual community itu? Geoffrey Liu dalam jurnal Computer-Mediated Communication, menetapkan beberapa syarat terbentuknya virtual community, yaitu: (1). adanya virtual public space, (2). adanya aktifitas komunikasi dari para anggotanya, (3). adanya anggota dengan jumlah besar sehingga memungkinkan terjadinya beberapa interaksi, (4). adanya kestabilan jumlah anggota dan konsistensi pemunculan anggota dan (5). adanya interaktifitas pesan verbal, pesan simulasi aksi dan konsistensi penggunaan nickname. Chatting dan Chatroom sebenarnya dapat menjadi salah satu keberadaan sebuah virtual community. Fungsi keduanya memang memungkinkan hal tersebut. Pertama, chattting berfungsi sebagai sarana komunikasi interpersonal (private chat) dan kedua, chatroom berfungsi pula sebagai sarana komunikasi kelompok (virtual public space). Dalam dunia 'nyata' yang Anda lakoni sehari-hari, Anda akan kesulitan melakukan komunikasi kepada lebih dari 1 target bicara (audience). Misalnya, Anda akan sulit bercumbu-rayu melalui telepon, ketika Anda tengah asyik-asyiknya bergosip soal Rhoma dengan keluarga. Atau, bagaimana mungkin Anda bisa menjelaskan laporan hasil kerja kepada bos, jika disambi berhaha-hihi dengan rekan kerja. Anda tetap bisa melakukan komunikasi lebih dari 2 audience dengan konsentrasi secara "sempurna", asalkan salah satu audiencenya adalah diri Anda sendiri. Inilah yang disebut dengan komunikasi intrapersonal. Hal ini sering Anda lakukan bukan ketika berbicara dengan bos atau bergosip dengan rekan kerja? Ketika Anda tengah berdialog dengan lawan bicara, Anda akan melakukan berdialog pula dengan diri Anda sendiri. "Ih si bos keras kepala bener sih! "Gak nyangka, dia mulutnya ember bener", dan seterusnya. Tetapi melalui chatroom, Anda bisa melakukan komunikasi lebih dari 2 audience sekaligus tanpa Anda kehilangan konsentrasi. Sebab, melalui chatroom, Anda akan memiliki "jendela" yang terpisah tiap audiencenya, dan tiap "jendelanya" menyimpan setiap "kata" yang "terucap". Jadi Anda bisa berpindah-pindah dari satu "jendela" ke "jendela" lainnya dengan mudah, tanpa Anda kehilangan konteks pembicaraan saat itu (kalaupun otak Anda mampu mengkonsepsikan "jendela-jendela" tersebut, toh mulut Anda hanya satu). Itu pulalah yang menyebabkan mengapa para virtual lover sangat mudah melakukan e-affair di chatroom. Bayangkan, teman saya (dan mungkin saya juga, tetapi saya malas mengakuinya) pernah merayu lebih dari 3-4 "perempuan" pada saat yang bersamaan. Ya tentu melalui chatroom. Kok kata "perempuan"-nya diberi tanda kutip? Karena saat itu tidak bisa dipastikan apakah lawan bicara teman saya tersebut benar-benar manusia berjenis kelamin perempuan. Bisa jadi salah satu atau semuanya adalah laki-laki iseng yang menggunakan nickname feminim. Santi, Ivanka, Sari, Niesa, Tiara adalah nama-nama generik di chatroom, yang akan melambungkan fantasi dan imajinasi laki-laki. Terkadang saya iseng, ketika di "jendela" yang satu saya menggunakan nickname rutin saya yaitu Adipati (gagah bukan?) ketika berkomunikasi dengan karib saya, di saat yang bersamaan "jendela" saya yang lain menggunakan nickname Santi-21 (angka "22" di belakang kerap dianalogikan oleh para chatter sebagai "usia"). Saat itu saya sebagai Adipati, hanya "berbicara" privat dengan 1-2 orang karib. Sedangkan saya sebagai Santi-21, "dikerubungi" oleh 20-an nickname laki-laki yang mengajak "bicara" privat! Komunitas Hacker Selanjutnya, untuk lebih menjelaskan konsep virtual community, ada baiknya kita mengambil contoh komunitas hacker yang ada di Indonesia. Saya bergaul dengan mereka cukup lama, sejak saya masih di Detikcom pada tahun 1999. Saya secara spesifik pernah pula membuat penelitian tentang kiprah dan sepak-terjang para hacker di Indonesia. Beberapa di antaranya masih melakukan korespondensi via e-mail dengan saya. Beberapa komunitas hacker datang dan pergi. Seperti lazimnya sebuah bentukan pop-culture, komunitas hacker memiliki "masa tayang" terbatas, disesuaikan dengan yang sedang tren saat itu. Ada yang 1 tahun dan bahkan ada yang hanya 3 bulan. Beberapa dedengkotnya masih bertahan hingga saat ini, tetapi sudah "ganti kulit" menjadi white hacker (programmer, konsultan, pembicara seminar, dan sebagainya). Sebagai individu sosial, seorang hacker tidak pernah lepas dari proses interaksi sosial dengan hacker lainnya atau dengan komunitas hacker-nya. Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, sehingga sikap dan perilaku individu yang satu akan mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki sikap dan perilaku individu yang lain. Dari intensitas interaksi sosial tersebut maka terbentuklah suatu komunitas. Winn Schawartau dalam bukunya Information Warfare menegaskan bahwa hacker merupakan salah satu jenis individu yang menggunakan Internet sebagai alat komunikasi dan alat interaksi antar sesama hacker lainnya. Ditambahkan pula oleh Schawartau bahwa kelompok hacker merupakan sebuah subkultur dari masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama dalam hal jaringan komputer di Internet dan antar anggotanya saling terlibat secara emosional. Para hacker menggunakan Internet karena mereka dapat berinteraksi dengan pihak lain tanpa harus menunjukkan jati diri sebenarnya (anonimitas / anonimity). Alat komunikasi apa di Internet yang paling sering digunakan oleh hacker Indonesia? Chatting dan chatroom! Alasan utama mereka adalah karena selain mereka bisa langsung bertukar ide dan gagasan dengan rekan sejawat mereka, melalui chatting mereka dapat berinteraksi dengan pihak lain tanpa harus menunjukkan jati diri sebenarnya (konsep anonimitas / anonimity) Hacker yang tergabung dalam chat room tersebut akan memiliki kecenderungan lebih termotivasi melakukan hacking. Secara naluriah, hacker tersebut akan belajar dan mengadopsi norma-norma komunitas mereka. Para hacker muda / junior, akan termotivasi melakukan hacking lantaran melihat percakapan di chatroom tentang keberhasilan seorang hacker, yang diikuti dengan pujian hacker lainnya. Kemudian melalui private chat, informasi teknik hacking dipertukarkan. Dengan pengaruh dan proses pembelajaran dari komunitasnya dalam chatroom hacker, individu yang pada awalnya tidak ingin dan tidak mengerti tentang hacking, akhirnya dapat mengerti teknik hacking, termotivasi melakukan hacking dan akhirnya melakukan hacking. Salah satu kelompok hacker legendaris Indonesia adalah kelompok AntiHackerlink, yang meraih era keemasannya pada sekitar tahun 1999 - 2000. Puluhan situs di Internet, lokal maupun luar negeri, pernah diobok-obok oleh kelompok ini. Wenas Agusetiawan, yang kerap menggunakan nickname hC- kalau sedang melakukan chatting dan juga pendiri kelompok ini, bahkan belum berusia 17 tahun ketika pada pertengahan 2000 dirinya tertangkap basah oleh kepolisian Singapura, ketika tengah melakukan hacking ke sebuah jaringam komputer di Singapura melalui apartemennya di daerah Toa Payoh - Singapura. Saya sempat ditugaskan untuk langsung mewawancara Wenas di apartemennya, sekaligus meliput proses pengadilannya pada Agustus 2000. Beruntunglah dia, sebab dia belum mencapai usia 17 tahun saat proses pengadilannya berlangsung, sehingga dia hanya dikenakan pengadilan di bawah umur dan hanya dikenakan denda Rp 150 juta saja! Jika saja pengadilannya ditunda 1 minggu saja, maka genap sudah dia berusia 17 tahun, dan penjara telah siap menerimanya. Berdasarkan Bukti Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian Singapura, Wenas ternyata banyak belajar dan termotivasi melakukan hacking melalui chatroom. Seperti apa gambaran hacker Indonesia yang telah berkiprah di negeri jiran tersebut? Biasa saja, seperti abg yang biasa kita temui sehari-hari. Yang jelas dia cukup jangkung untuk remaja seusianya (hobinya basket bo!), bicara masih malu-malu, tampak manja dengan mamanya, tersipu-sipu ketika ditanyakan siapa pacarnya dan yang pasti dia tidak berkacamata (melenceng dari pakem citra hacker yang nerd dengan kacamata tebal?)! Sayangnya, saya tidak bisa menyuguhkan foto dia kepada Anda, karena memang saya tidak punya. Bukan saya tidak membawa kamera. Saat itu kamera digital selalu menemani saya kemanapun saya pergi, bahkan hingga saat ini. Masalahnya, hukum Singapura melarang siapapun, termasuk wartawan, untuk mengambil gambar seorang terdakwa yang masih dibawah umur! Sial benar, saat itu pikir saya. Kalau saya di Indonesia, pasti sudah saya jeprat-jepret. Kalau saja saat itu saya nekat mengambil gambarnya, bisa-bisa saya diadukan oleh mamanya ke kepolisian Singapura, dan bisa jadi saya diadili oleh pengadilan untuk orang dewasa di Singapura. Ogah ah….. *) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juli 2003. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.