Berbagi Berkas

Saat sebuah sistem memutuskan untuk menyediakan fasilitas berbagi berkas, maka tantangan yang muncul adalah memperluas file-sharing agar dapat diakses oleh berbagai sistem berkas. Hal lain yang menjadi perhatian adalah konflik yang mungkin muncul akibat berbagi berkas, misalnya beberapa pengguna melakukan operasi penulisan terhadap suatu berkas secara bersama-sama.

Multiple User

Ada tiga isu penting saat suatu sistem mengakomodasi banyak pengguna (multiple users), yaitu berbagi berkas, penamaan berkas, dan proteksi berkas. Dalam pengimplementasian berbagi berkas dan proteksi berkas di multiple user system, suatu sistem perlu untuk memberikan tambahan pada atribut dari suatu berkas atau direktori. Pendekatan yang umum dilakukan adalah dengan konsep owner dan group. Dalam bahasa Indonesia, kata owner berarti pemilik. Istilah pemilik dalam suatu sistem yang menerapkan berbagi berkas dapat diartikan sebagai seorang pengguna yang mempunyai hak penuh atas suatu berkas atau subdirektori. Owner tersebut dapat melakukan apa saja terhadap berkas miliknya, termasuk memberikan hak akses tertentu kepada pengguna lain terhadap berkas tersebut.

Konsep dari owner ini diimplemetasikan oleh beberapa sistem dengan memanfaatkan daftar dari nama pemakai dan diasosiasikan dengan user identifiers atau user IDs. Tentu saja ID ini bersifat unik, tidak akan ada dua pengguna yang memiliki ID yang sama. Selanjutnya untuk setiap proses dan thread yang dijalankan oleh seorang pengguna, maka proses dan thread tersebut akan dikaitkan dengan user ID tadi.

Sekumpulan pengguna dapat membentuk suatu group yang mempunyai group identifier dan akan dikaitkan dengan setiap proses dan thread yang dijalankan oleh group tersebut.

Saat seorang pengguna melakukan operasi pada suatu berkas, maka user ID dari pengguna tersebut akan dicocokkan dengan atribut dari pemilik berkas tersebut. Proses tersebut dilakukan untuk mengetahui hak apa saja yang diberikan oleh pemilik berkas kepada pengguna lain. Hal itu juga berlaku pada group.

Remote File System

Seiring berkembangnya jaringan dan teknologi berkas, mekanisme berbagi berkas juga mengalami perubahan. Awalnya, cara yang digunakan dalam file-sharing adalah dengan aplikasi seperti File Transfer Protocol (FTP). Selanjutnya, berkembang apa yang disebut dengan Distributed File Systems, disingkat DFS. Dengan DFS, sebuah remote-directories dapat diakses dari local-machine. Cara lainnya adalah melalui World Wide Web (www), merupakan pengembangan dari metode FTP.

Mekanisme file-sharing memungkinkan seorang pengguna dapat mengakses sebuah sistem berkas yang ada di komputer lain yang terhubung ke jaringan atau biasa disebut remote machine. Ada dua kemungkinan saat seorang pengguna terhubung ke remote machine. Pertama, ia harus melakukan proses otentifikasi atau proses identifikasi bahwa ia telah terdaftar sebagai seorang pengguna yang mempunyai hak akses tertentu terhadap remote machine tersebut. Kedua, ia cukup dikenali sebagai anonymous pengguna yang bisa jadi mempunyai hak akses tidak seluas dibandingkan dengan pengguna yang telah terotentifikasi.

Absolute pathYaitu "/Kuliah/OS/bahan/slide".

Client-Server ModelRemote File System mengijinkan suatu komputer untuk me-mounting beberapa sistem berkas dari satu atau lebih remote machine. Dalam kasus ini, komputer yang menyediakan berkas-berkas yang diakses oleh komputer-komputer lain disebut dengan server dan komputer yang mengakses berkas-berkas yang di-share disebut dengan client. Yang menjadi isu dalam model ini adalah masalah keamanan, pengaksesan suatu sistem oleh seseorang yang tidak mempunyai hak, atau disebut juga unauthorized user.

Failure ModesSuatu local system dapat mengalami failure atau crash yang menyebabkan sistem tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya karena berbagai hal. Teknologi Redundant Arrays of Inexpensive Disk (RAID) cukup membantu hal ini. Namun demikian, penjelasan lebih detil tentang RAID akan dibahas dalam topik-topik lainnya, terutama yang berkaitan dengan storage.

Remote File System bukan tanpa gangguan. Kompleksitas dari sistem jaringan dan juga adanya interaksi antara remote machine memberi peluang lebih besar akan terjadinya kegagalan dalam sistem tersebut.