Summary Judul artikel: Technology as an Occasion for Structuring: Evidence from Observations of CT Scanners and the Social Order of Radiology Departments Sumber: Administrative Science Quarterly, 31 (1986): 78-108 Penulis: Stephen R. Barley Perangkum: Agvitarina Lubis [1202000052] Sylvia Susanto [1202001016] Vita Amanda [1202001067] Abstraksi dan Pendahuluan Peralatan pencitraan medis seperti CT scanner memberikan tantangan bagi hubungan peran tradisional di antara dokter radiologi dan teknisi radiologi. Teknologi CT scan ini dapat mengubah struktur organisasi dan tanggung jawab pekerjaan dalam bidang radiologi. Pada bagian ini penulis menyebutkan bahwa artikel ini mengembangkan pandangan sosiologi terhadap hubungan antara institusi dan aksi untuk mendefinisikan suatu teori bagaimana teknologi dapat menyebabkan terjadinya perbedaan struktur organisasi dari sebelumnya dengan mengubah peran-peran yang sesuai dengan institusi dan pola-pola interaksi yang ada. Maka dalam hal ini teknologi untuk selanjutnya akan dianggap sebagai objek sosial bukan objek physical, dan struktur dikonsepkan sebagai suatu proses bukan entitas. Implikasi dari teori tersebut diilustrasikan melalui penelitian terhadap penggunaan CT scanner yang identik dalam dua departemen radiologi pada rumah sakit yang berbeda yang mengakibatkan proses strukturisasi yang sama dan perubahan ke arah bentuk divergen organisasi. Sites and Methods Penelitian dilakukan pada dua rumah sakit yang berbeda di Massachusetts yaitu Urban dan Suburban. Kedua rumah sakit ini sama-sama memiliki enam dokter radiology, menerima CT scanner pertama kali di tahun 1982, menjalankan prosedur radiologi yang standard, serta membeli produk CT scanner yang sama yaitu Technicare 2060. Awal penelitian difokuskan pada mendokumentasikan praktek tradisional radiologi untuk membentuk dasar perbandingan dalam menentukan area dimana scanner akan memodifikasi pola-pola institusional dalam dua departemen radiologi tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengobservasi langsung proses penggunaan CT scan disertai dengan merekam dan mencatat seluruh percakapan yang terjadi selama proses observasi berlangsung. Proses analisis dimulai dengan mengidentifikasi breakpoint yang ada untuk mendefinisikan fase-fase strukturisasi pada masing-masing tempat penelitian dilakukan, dimana rumah sakit Urban mengalami empat fase dan rumah sakit Suburban mengalami dua fase. Kemudian analisis dilanjutkan dengan melibatkan observasi yang mendalam secara berulang-ulang mengenai interaksi antara dokter radiologi dengan teknisi radiologi untuk memetakan karakteristik masing-masing pola interaksi. Dan analisis tahap final dilanjutkan dengan menghubungkan parameter yang tercatat dari dua pola interaksi hingga properti dari masing-masing struktur formal area CT. Konteks dan tradisi radiologi menurut institusi Pada bagian ini penulis menginformasikan bahwa secara tradisional, seorang teknisi radiologi bertugas untuk memeriksa pasien saat melakukan pemeriksaan radiologi dan membuat negatif film untuk dokter radiologi. Kemudian dokter radiologi akan memeriksa negatif film tersebut dan memberikan informasi hasil diagnosis dari negatif film kepada dokter lain yang memerlukannya. Jadi teknisi radiologi hanya melakukan pekerjaan teknis bukan menginterpretasi hasil citra radiologi yang merupakan tugas seorang dokter radiologi. Penyusunan struktur pengoperasian CT di Rumah Sakit Suburban Fase 1 : Negotiation of Discretion Suburban mempekerjakan lima orang dokter radiologi lama, satu orang dokter radiologi baru, dua teknisi berpengalaman, dan dua teknisi yang tidak berpengalaman dalam instalasi CT scan. Divisi CT belum memiliki prosedur standard karena tidak ada satu pun personel yang pernah mengoperasikan mesin CT scan sebelumnya. Pada fase ini tercatat beberapa pola interaksi yang berbeda secara substansial dari karakteristik pengoperasian scanner nantinya, yaitu: 1. Validasi yang tidak diinginkan Pola yang terjadi adalah: (1) teknisi mengambil suatu tindakan entah benar ataupun salah, (2) dokter radiologi mempertanyakan tindakannya, (3) teknisi memberikan justifikasi, (4) dokter radiologi akan mengkonfirmasikan tindakan tersebut sesuai atau benar karena ia juga tidak berpengalaman. Validasi yang tidak diinginkan dapat menciptakan terjadinya kesempatan yang tidak diminta bagi dokter radiologi dan teknisi untuk menegosiasikan pengetahuan. 2. Pertanyaan yang terjadi Pola yang terjadi adalah: (1) teknisi menanyakan pertanyaan langsung kepada dokter radiologi , (2) dokter radiologi memberikan jawaban langsung kepada teknisi, (3) teknisi membuat pernyataan tentang rencana tindakan selanjutnya, (4) dokter radiologi mengkonfirmasikan rencana teknisi tersebut sesuai atau benar. 3. Pernyataan preferensi Pola yang terjadi adalah: (1) dokter radiologi yang sudah berpengalaman tidak hanya membuat preferensinya diketahui dengan jelas oleh teknisi, (2) dokter radiologi juga memberikan rasionalisasi atau penjelasan yang masuk akal mengenai preferensinya tersebut. Ketiga pola interaksi pada fase satu tersebut membentuk definisi awal dari hubungan peran dalam divisi CT di rumah sakit Suburban. Fase 2 : Usurping Autonomy (Otonomi yang dijalankan secara salah) Dari catatan penelitian diketahui bahwa dokter radiologi jarang berinteraksi dengan teknisi. Mereka cenderung untuk bertanya hal-hal mengenai scanner kepada kolega mereka yang lebih berpengalaman. Pembagian tugas jaga di divisi CT scan menandai fase kedua dalam penyusunan struktur pengoperasian CT di rumah sakit Suburban. Pola-pola interaksi sebelumnya berubah dengan cepat pada fase kedua ini, seiring dengan terjadinya pergeseran hubungan peran antara dokter radiologi dengan teknisi. Pergeseran tersebut disebabkan oleh pola-pola interaksi berikut: 1. Pengajaran tersembunyi Pola yang terjadi adalah: (1) dokter radiologi menanyakan pertanyaan yang tidak relevan atau membuat saran yang salah, (2) teknisi akan memberikan informasi yang bersifat koreksi namun tidak terkesan mengajari, (3) dokter radiologi akan mengoreksi pernyataannya. Pola seperti ini mengancam peran dokter radiologi dan teknisi yang telah ditetapkan dalam sistem tradisional radiologi. Dokter radiologi harusnya mengajari teknisi bukan sebaliknya. 2. Keterbalikan peran Pola yang terjadi adalah: (1) dokter radiologi menanyakan teknisi tentang petunjuk adanya penyakit dari hasil CT scan yang mengarah ke proses diskusi, (2) teknisi menyatakan interpretasinya terhadap hasil CT scan pasien kepada dokter radiologi. Pola ini secara jelas melanggar peraturan karena memberikan mandat kepada seorang teknisi untuk menginterpretasikan hasil CT scan pasien mengenai petunjuk adanya penyakit, yang seharusnya menjadi tugas dokter radiologi. 3. Tindakan menyalahkan teknisi Pola yang terjadi adalah: (1) dokter radiologi menyatakan atau mempertanyakan masalah yang terjadi, (2) secara langsung dan tidak langsung, dokter radiologi menyatakan bahwa suatu masalah disebabkan karena kesalahan teknisi, (3) dokter radiologi membantah pembelaan teknisi bahwa masalah dasarnya terletak di perangkat teknologi itu sendiri atau dengan kata lain merupakan masalah kerusakan teknis. Seiring dengan ketiga pola interaksi pada fase kedua tersebut telah membentuk pola interaksi yang baru secara bertahap, otoritas dokter radiologi secara moral kualitasnya mulai memudar dan teknisi menjadi mulai berkurang rasa hormatnya terhadap dokter radiologi yang kurang berpengalaman. Teknisi mulai memiliki pandangan bahwa dokter radiologi tidak mengetahui hal-hal yang harusnya mereka ketahui dan ketidaktahuan mereka tersebut mengakibatkan pekerjaan tambahan yang tidak perlu, bahkan memperlambat kinerja pengoperasian CT scan. Dokter radiologi juga menjadi tidak nyaman karena mereka tidak terbiasa jika pengetahuan mereka dianggap tidak benar. Mereka juga takut akan melakukan kesalahan yang serius dan merasa diserang oleh teknologi komputer sehingga mereka menunjukkan rasa tidak suka dengan penggunaan teknologi. Hal ini menyebabkan terjadinya ketegangan di antara dua kubu hingga membuat teknisi dan dokter radiologi saling menghindar satu sama lain. Teknisi mulai bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan rutin yang biasanya dulu harus dikonsultasikan kepada dokter radiologi terlebih dahulu. Di lain pihak, dokter radiologi mulai menarik diri dari kegiatan CT scanner secara perlahan. Sehingga pada fase kedua ini, teknisi CT pada rumah sakit Suburban mendapatkan otonomi atau kekuasaan yang lebih besar dari yang seharusnya dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Penyusunan struktur pengoperasian CT di Rumah Sakit Urban Penyusunan struktur pengoperasian CT Scanner pada rumah sakit Urban meliputi beberapa fase, diantaranya adalah: 1. Fase 1 : Negosiasi Ketergantungan Dua bulan sebelum scanner tiba, rumah sakit Urban telah mempekerjakan seorang dokter radiologi spesialisasi CT scanning. dokter radiologi yang kedua bertugas untuk mengatur operasi scanner dan telah mengikuti scanning literature bagian badan walaupun dia kurang berpengalaman dalam bidang teknologi. Petugas scanner dikumpulkan menjadi satu group dengan 8 teknisi. Karena teknisi tidak tahu apa-apa mengenai scanning badan, dokter radiologi memberikan informasi dengan maksud mengajari teknisi. Informasi yang diberikan oleh dokter radiologi berbentuk komunikasi verbal. Seiring dengan berjalannya waktu, informasi yang diberikan dokter radiologi menjadi bentuk perintah yang tidak dapat dikategorikan sebagai training lagi selain itu, dokter radiologi juga sangat mendominansi pekerjaan teknisi. Dalam memberikan perintah, dokter radiologi tidak selalu memformulasikan cara scanning dengan tepat, terdapat cara tertentu yang lebih efektif untuk mendapatkan hasil yang akurat. Akhirnya dokter radiologi memerintah ulang teknisi untuk menggunakan cara alternatifnya itu yang bertolak belakang dengan perintah awal. Ditambah lagi sering terjadi perdebatan antar dokter radiologi mengenai cara pengoperasian scanner yang tepat sehingga muncul perintah-perintah yang sama sekali tidak dikenal oleh teknisi. Situasi seperti ini mengakibatkan teknisi tidak dapat ikut campur dan hanya dapat menuruti dan menjalankan perintah-perintah dokter radiologi. Setelah dua bulan berjalan, dokter radiologi tidak memerintah dalam bentuk verbal lagi melainkan kearah aksi. Dokter radiologi mengambil alih pekerjaan teknisi, seperti menekan tombol atau mengetik perintah pada keyboard. 2. Fase 2 dan 3 : Membangun dan Meyakinkan Ketidakahlian Karena teknisi tidak mempelajari operasi scanning seperti apa yang diharapkan, hasilnya teknisi sangat bergantung pada dokter radiologi. Teknisi tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjalan scanning sendiri. Sehingga ketika dokter radiologi tidak ada, teknisi ke tempat dokter radiologi untuk berkonsultasi mengenai proses scanning. Dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh teknisi, dokter radiologi menyimpulkan bahwa ketergantungan akan terus berlanjut. Hal ini menyebabkan dokter radiologi menjawab pertanyaan disertai emosi dan kadang-kadang disertai olokan. Selain itu juga, sering kali dokter radiologi meninggalkan kantornya ke tempat scanning untuk mengamati proses scanning. Dokter radiologi mulai mencemaskan ketergantungan teknisi dan menilai teknisi merupakan orang-orang yang tidak berkompeten. Akhirnya dokter radiologi memutuskan untuk tetap diruang scanning ketika pasien sedang discan. Keputusan ini menandakan masuk ke fase 3. 3. Fase 4 : Menuju Kemandirian Pada fase ini terjadi perotasian, empat dokter radiologi yang berkompeten dalam scanning badan dikirim ke bagian scanning kepala. Hal yang sama terjadi pada dokter radiologi yang berpengalaman memulai tugasnya dibagian departemen radiologi yang lain sehingga dokter radiologi yang tidak berpengalaman dapat mencoba CT. Bagi dokter radiologi yang tidak berpengalaman, mereka meminta para teknisi untuk membantunya. Interaksi seperti ini menguntungkan kedua belah pihak karena pertanyaan yang diajukan oleh dokter radiologi membuat teknisi menjadi lebih memperdalam mengenai scanning dan jawaban yang diberikan sudah jelas menguntungkan dokter radiologi. Hasil Penelitian Penggunaan CT scanner di dua tempat ini terbukti dapat mengubah peran hubungan antara teknisi dan dokter radiologi. Jika dilihat dari sisi pemodelan sequential dari strukturisasi, teknologi yang identik dapat membuat struktur interaksi sosial pada organisasi yang bervariasi jika terdapat ketidak pastian dan kompleksitas teknis dari teknologi itu sendiri. Selain itu telah dibuktikan bahwa teknologi dapat mempengaruhi struktur dari organisasi secara teratur. Perubahan struktur tersebut bergantung kepada kondisi organisasi dan cara pengimplementasian teknologi itu.